Chocomous Chocomous -->

Demi Masa

Banyak orang yang larut dalam hal-hal yang menghabiskan waktu.
Tapi sebenarnya apa semua orang paham artian makna dari waktu?

Bila kau ingin tau apa arti 1 tahun, tanyakanlah pada siswa yang tak naik kelas.

Bila kau ingin tau apa arti 1 semester, tanyalah pada mahasiswa yang telat lulus kuliahnya.

Bila kau ingin tau arti 1 bulan, tanyalah pada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.

Bila kau ingin tau arti 1 minggu, tanyalah pada seorang editor koran mingguan.

Bila kau ingin tau arti 1 hari, tanyalah seorang wanita yang menunggu hari pernikahannnya di esok hari.

Bila kau ingin tau arti 1 jam, tanyalah pada seorang pengusaha yang terlambat menemui investor potensialnya.

Berikhtiar

Setiap orang memiliki cita-cita atas hidupnya. Ada yang menurut orang lain cita-citanya sangat tinggi, sehingga barangkali akan sangat sakit kalau terjatuh. Ada yang mimpinya unik, entah itu masuk akal atau tidak dan orang-orang cuma bisa tersenyum heran.

Tidak ada yang salah dengan cita-cita, justru kasian sekali orang yang hidupnya tanpa cita-cita. Mimpi dan cita-cita membuat hidup terasa hidup. Karena kita memiliki semangat untuk mewujudkannya suatu saat nanti.

Berikhtiar adalah hal yang tidak terbatas oleh waktu. Mimpi sekecil dan semustahil apapun itu wajib untuk diperjuangkan. Karena kita manusia. Berikhtiarlah tanpa henti. Sampai Allah memutuskan semuanya. Apakah kita harus tetap berjalan lurus pada apa yang sudah kita ihktiarkan, atau kah kita harus berhenti sampai tempat kita singgah sekarang. Allah akan memberi tanda, agar kita tidak berlama-lama menghabiskan waktu dalam kebimbangan dan ketidakpastian.

Allah hanya ingin menguji, seberapa besar keinginan kita terhadap mimpi kita. Jadi bejuanglah, selama kita bisa, selama kita masih bisa. Lalu berhenti jika Allah memintamu berhenti.
Itulah yang terbaik menurut-Nya, dan pasti terbaik untuk kita.

Hati Itu Milik Allah

Bismillah..

Allah, Sang Maha Pembuat skenario terbaik yang pernah ada.

Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.

Siapa sih yang lebih tau segalanya selain Allah? 
Nikmat mana lagi yang mampu saya dustakan? 
Cinta mana lagi yang mampu menandingi cinta Allah terhadap hamba-hambaNya?

Ya Allah, Ya Rabb..
Terkadang saya tidak paham dengan apa yang Engkau rencanakan untuk hambaMu ini. Saya juga tidak pernah tau akan berakhir dimana dan bagaimana segala isi dalam dada saya ini. Tapi yang saya yakini, rencanaMu pasti selalu menjadi yang terbaik.

Ketika saya meminta setangkai bunga mawar yang cantik, Engkau beri kaktus yang berduri.
Ketika saya meminta ditemani hewan kecil yang cantik, Engkau beri ulat yang berbulu.
Ketika saya meminta sinaran mentari yang menghangatkan, Engkau berikan hujan badai beserta kilat yang bersautan.

Jujur, awalnya saya merasa kecewa dan sedih. Namun saya terus mencoba untuk bersabar dan bertawakal, walaupun saya tau saya tidak sekuat orang-orang terdahulu. Hingga akhirnya, kaktus itu berbunga indah, bahkan lebih indah dibandingkan dengan mawar yang pernah saya pinta. Seiring waktu ulat berbulu pun menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik. Hujan badai yang Engkau hadirkan ternyata berujung pada pelangi yang ingin Engkau hadiahkan kepada saya. Sungguh Engkau satu-satunya yang paham isi di hati ini.

Book Review: Sirah Nabawiyah (by Syeikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri)

Karya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri ini adalah buku sirah yang paling dikenal di kalangan para pembaca. Pasalnya, metode yang digunakan cukup representatif dan dapat memberikan gambaran utuh mengenai hidup dan perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Buku ini juga mendapat penghargaan sebagai Juara I Lomba Penulisan Sejarah Islam Rabithah Al Alam Al Islami, Saudi Arabia. Inilah sebabnya yang menjadikan buku ini sebagai rujukan yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran sejarah peradaban umat.

            Sejarah memang unik. Ia dapat berperan sebagai sarana edukatif dan juga dapat menjadi hiburan di tengah keterpurukan umat dewasa ini. Sesungguhnya sejarah Islam sungguh agung. Bukan hanya karena sosok Rasulullah dan para sahabat yang dikenal sebagai generasi umat terbaik (khairu ummah), tetapi juga faktor ideologi Al Islam yang sangat kuat terinternalisasi dalam diri-diri mereka. Betapa tidak imperium super power kala itu (Romawi dan Persia) takluk di tangan mereka. Ini bukan tentang masalah pengenangan romantisme sejarah, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil spirit perjuangan dakwah dan tarbiyah sang Nabi.

Buih Di Atas Lautan

Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”.

Salah seorang sahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?”

Rasulullah SAW menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’.”

Seorang sahabat Rasulullah SAW bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?”

Maximize The Last 10 Days Of Ramadhan

1. Take a vacation for Allah.
We take a break from our jobs for almost everything in life. Why not this time to focus on worshiping and thanking our Creator.

If this is not possible at least take a few days off if you can. This can make it easier to stay awake at night to do extra Ibadah, not having to worry about getting to work the next day. It will also facilitate doing Itikaf.

2. Do I’tikaf.
It was a practice of the Prophet to spend the last ten days and nights of Ramadan in the masjid for I’tikaf.

Those in I’tikaf stay in the masjid all this time, performing various forms of zikr (the remembrance of Allah), like doing extra Salat, recitation and study of the Quran. They do not go outside the masjid except in case of emergencies, therefore, they sleep in the masjid. Their families or the masjid administration takes care of their food needs. I’tikaf of a shorter period of time, like one night, a day or a couple of days is encouraged as well.

3. Make this special Dua.
Aisha, may Allah be pleased with her, said: I asked the Messenger of Allah: ‘O Messenger of Allah, if I know what night is the night of Qadr, what should I say during it?’ He said: ‘Say: O Allah, You are pardoning and You love to pardon, so pardon me.’ (Ahmad, Ibn Majah, and Tirmidhi).

The transliteration of this Dua is “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annee”

4. Recite the Quran.

Perhaps you can choose Surahs or passages from the Quran, which you have heard in Tarawih this past Ramadan to recite.

If you attend a class where the recitation of the Quran is taught, this is a great time to put your knowledge into practice.

5. Reflect on the meaning of the Quran.

Choose the latest Surah or Surahs you’ve heard in Tarawih and read their translation and Tafseer. Then think deeply about their meaning and how it affects you on a personal level.

Poems: He

he saw me
he got me
he never bothered to get to know me
he didn't respect me
& he oppressed me
he tormented me
& he broke me

But, then HE, who is most high, most perfect, saved me
Protected me & shielded me
it is He, who fixed me
He who will be Just with me
He who has always truly loved me
He who will give, after hardship, ease for me
Al Jabbar,
Al Kareem,
Al Wali
Subhana Wata’ala

 
Copyright © 2013-2014. Designed by Ismi Islamia Fathurrahmi