Chocomous Chocomous -->

Kekuatan Do'a

Saat pertama kali bumi diciptakan, bumi selalu bergoyang, bergoncang & tidak berputar dgn stabil, malah tidak berputar pada paksinya. Perkara ini merunsingkan para malaikat.
Kemudian para malaikat menghadap Allah s.w.t, "Wahai Rabb Yg Maha Mengetahui, mengapa bumi ini bergoyang?" tanya para malaikat.
"Karena belum dipaku." Jawab Allah singkat.
"Lalu, bagaimana Engkau memaku bumi wahai Rabb?" tanya malaikat lagi.
"Aku akan menciptakan gunung ganang."jawab Allah.

Setelah itu, Allah terus menciptakan gunung ganang di berbagai belahan bumi. Apa yg terjadi sememangnya benar. Setelah diciptakan gunung ganang, bumi pun diam kemudian berputar sesuai paksinya. Maka kemudian gunung dikenali sbg paku bumi yg diciptakan Allah s.w.t.  Paku
merupakan benda keras yg terbuat dr besi.

Setelah Allah menciptakan paku bumi yaitu gunung ganang, kemudian para malaikat bertanya lagi, "Ya Rabb, adakah yg lebih kuat dari paku?"
“Ada. yaitu api, yg dgn panasnya dpt melelehkan besi.”
"Adakah yg lbh kuat lg selain api, Ya Rabb?" tanya malaikat.
"Ada, yakni air yg dapat memadamkan api." jawab Allah.
“Jadi Ya Rabb, adakah yg lebih kuat dari air?” sambung malaikat.
“Ada, yaitu angin, yg karenanya dapat membawa air ke mana pun ia berhembus.” jawab Allah lagi.
“Tapi Ya Rabb, adakah yang lebih kuat daripada semua itu (gunung, api, air & angin)?” Malaikat bertanya lagi.
“Ada, yaitu nafas hamba-Ku yg berdoa kepada-Ku. Karena sesungguhnya doa itu mampu mengubah takdir-Ku.” demikian Allah s.w.t menjelaskan.
- Hadis Qudsi

Calon Imam

Bismillah..

Gak tau kenapa tiba-tiba keingetan sama kata-kata ceplosan dua orang temen saya dari jaman yang berbeda. Satu dari jaman putih biru dan satunya lagi dari jaman putih abu. Lagi-lagi persoalan hijrah saya satu tahun terakhir ini, yang menimbulkan mungkin sedikit banyak penilaian dari orang-orang. Terlebih lagi orang yang mungkin sudah lama mengenal ataupun sekedar mengetahui saya. Teman-teman masa sekolah kebanyakan. Bukan hendak show-off dan semacamnya tapi saya hanya ingin merekam apa-apa yang terbesit dalam benak saya.

Ngomongin cinta emang gak ada basinya. Ngomongin jodoh juga gak ada habisnya, apalagi jodoh yang berupa pasangan hidup, selalu akan menjadi topik hangat untuk diperbincangkan kapan saja dimana saja. Apalagi untuk kami, insan-insan yang belum dipertemukan pasangan hidup olehNYA, kami yang masih dalam tahap memantaskan diri, kami yang masih dalam masa penantian. Atau lebih tepatnya.. Saya sedang membicarakan diri saya sendiri. Satu persatu teman-teman yang memang sudah siap dan dipandang siap oleh Allah segera melepas masa lajang mereka. Barakallah ya.. Semoga Allah permudahkan segala hajat mulia teman-teman saya baik yang akan mempersunting maupun yang akan segera dipersunting. Aslinya saya gak pernah mau terlalu ambil pusing masalah jodoh. Karena yang saya yakini jodoh, rezeki, maut adalah HAL yang sudah dijamin oleh Allah. Dan Allah pasti akan memberikan karuniaNYA tersebut pada saat yang tepat dan dengan caraNYA yang paling indah. Sering saya sugestikan diri saya buat apa saya mengkhawatirkan hal - hal yang aslinya sudah dijamin sama Allah, sudah tertulis dalam Lauh mahfudz bahkan sejak saya masih berupa janin dalam kandungan ibu saya. Daripada mengkhawatirkan hal yang sudah pasti lebih baik saya mengkhawatirkan apa-apa yang belum pasti dalam hidup saya kan? Bagaimana jika saya meninggal nanti? Apa saya bisa masuk ke dalam surga Allah dengan hisab yang mudah atau justru sebaliknya? Tapi ya.. Mau bagaimana pun rasa harap cemas mengenai jodoh tentu saja acapkali saya rasakan. Ada satu harap yang saya pendam. Ada satu asa yang saya hanyutkan dalam ikhlas padaNYA. Ada satu kepasrahan yang masih sedang saya perjuangkan.


“Kalo kamu mau tau, banyaak kok yang suka sama kamu. Kamu aja yang gak ngeh !”
Saat teman saya mengatakan hal itu yang bisa saya lakukan hanyalah menyimpulkan senyum. Senyum meremehkan sebenarnya, tapi mungkin lebih ke meremehkan diri saya sendiri. Apa yang menarik dari saya. Saya tak begitu cantik seperti perempuan-perempuan lain, saya tak ulet seperti perempuan kebanyakan bahkan mungkin terlihat saya hanyalah seperti perempuan manja yang harus selalu dituruti keinginannya, saya tak mempunyai keahlian tertentu dalam hal apapun, dalam hal akademis pun saya biasa-biasa saja, solehah? Ah.. Dosa saya mungkin seluas samudera, hanya mereka saja yang gak pernah tahu. Gak ada yang membanggakan dari diri saya. Gak ada hal yang patut diidamkan dari diri saya.
”haha, mereka itu belum tau aja gimana aku sebenarnya. Lagian aku juga gak mau tau siapa mereka kok. Kalo hanya sekedar suka sih biasa, kalo memang niat ngelamar yah bilangnya langsung ke ayah, bukan ke aku.”
Akhirnya kata itulah yang menjadi respon saya dari pernyataan teman-teman saya diatas. Tapi ya begitulah… Dari cerita teman-teman saya yang menyatakan hal tersebut, bisa saya simpulkan bahwa orang-orang memandang saya semacam-istriable, karena perubahan yang ada dalam diri saya. Mungkin saya terlihat lebih baik dengan hijab yang menutup seluruh tubuh saya, saya terlihat “taat” karena tak pernah lalai menunaikan panggilanNYA, mungkin saya terlihat seperti calon isteri dan ibu yang baik karena pandangan hidup saya yang kini tak hanya berorientasi pada perkara dunia saja tapi juga perkara akhirat. Mungkin ya.. Saya juga gak paham. Haruskah saya senang saat saya “sekedar tahu” bahwa diluar sana saya dianggap sebagai perempuan baik nan solehah? Perempuan yang cocok dijadikan pendamping hidup? Saya rasa tidak. Andai mereka semua tau bagaimana banyaknya dosa-dosa dan kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri saya, saya gak yakin kalau mereka masih mau menjadikan saya sebagai calon pendamping mereka. Bukannya setiap orang biasanya hanya melihat apa yang terlihat dari luar saja? Atau memang beberapa orang sengaja memilih perempuan yang memang “serba bisa” sehingga saat perempuan itu menjadi isterinya ia takkan begitu merasa kesulitan karena kelebihan isterinya yang sudah lebih dulu ia ketahui. Ya laki-laki memang dipersilahkan bebas untuk memilih. Begitu juga kami, kan? Begitu juga saya. Ntah lah jika ditanya pasangan hidup seperti apa yang saya inginkan, jelas saya menginginkan suami yang taat pada Allah. Laki-laki yang tak hanya mencintai saya tapi juga mencintai Allah, mencintai agamanya. Laki-laki yang mampu membimbing dan menasihati saya, serta lembut pandangannya sehingga saat kekurangan yang ada pada diri saya ia ketahui, ia masih tetap bisa melihat kelebihan atau minimal ketulusan yang saya miliki untuknya. Laki-laki yang lembut hatinya mencintai Allah, sehingga jika ia sedang kesal pada saya maka ia takkan mampu untuk menyakiti saya. Tapi.. Seperti kata-kata yang sering saya dengar, the key is istiqomah. Istiqomah memang sulit. Berkali-kali saya mendengar kisah perempuan yang in shaa Allah solehah dan menikah dengan lelaki soleh juga namun apa daya.. Sang lelaki perlahan merangkak meninggalkan keistiqomahannya dan perlahan tapi pasti pula berakhir dengan menyakiti sang isteri. Jadi menurut saya.. Memilih pasangan soleh pun belum tentu jaminan bahwa ia takkan menyakiti dan meninggalkan saya. Karena memang seringkali saya mendapat atau mendengar kisah tarbiyatullah bahwa hakikatnya Allah lah sebenar-benarnya cinta sejati untuk kita. Bukan ia yang akan menjadi pasangan hidupmu. Hanya Allah lah yang berkuasa mengenggam hati manusia, hanya pada Allah juga lah semestinya kita menempatkan cinta tertinggi di hati ini. Ini PR buat saya yang masih seringkali harus meluruskan hati dan niatan atas segala hal yang saya lakukan atau yang saya hajatkan.

Hmmm… At least yang saya inginkan hanyalah jika saya menikah kelak, saya bisa menikah dengan orang yang Allah ridho jika saya mencintainya. Saya ingin mendampingi ia yang membutuhkan saya, ia yang mampu dan sanggup bertahan dengan saya apapun kekurangan dan kelemahan yang saya miliki. Saya ingin mendampingi dengan ia yang tak hanya ingin bersama saya didunia tapi juga ia yang ingin menuntun saya hingga sampai ke jannahNYA. Saya gak akan pernah mempermasalahkan materi ataupun hal-hal yang ada didunia ini pada suami saya kelak. Karena yang saya pahami, semuanya hanya titipan. Harta melimpah akan menjadi ujian dan menjadi hal yang dihisab lebih lama diakhirat nanti, harta yang sedikit pun menjadi ujian kesababaran bagi kita didunia ini. Bukankah lebih baik kita bersusah dan bersederhana didunia tapi kita bisa nyaman dan dihisab dengan mudah di akhirat nanti? Saya hanya ingin.. Jika saya menikah nanti suami saya mengetahui bahwa jika saya bersedia menikah dengannya, itu artinya saya mau membentuk lembaran baru langkah baru menuju taat yang lebih baik, menuju keridhoan Allah dan surga bersamanya. Bukan bersama lelaki lain. Dan saya akan terus ada untuknya sampai akhir usia saya, apapun yang terjadi.

Allah masih menyembunyikan laki-laki yang pantas untuk saya disuatu tempat. Semoga kita senantiasa berlapang dada dan istiqomah dalam taat, hingga saatnya Allah pertemukan ya, calon imamku. Calon kunci pintu surga nerakaku.

Demi Masa

Banyak orang yang larut dalam hal-hal yang menghabiskan waktu.
Tapi sebenarnya apa semua orang paham artian makna dari waktu?

Bila kamu ingin tau apa arti 1 tahun, tanyakanlah pada siswa yang tak naik kelas.

Bila kamu ingin tau apa arti 1 semester, tanyalah pada mahasiswa yang telat lulus kuliahnya.

Bila kamu ingin tau arti 1 bulan, tanyalah pada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.

Bila kamu ingin tau arti 1 minggu, tanyalah pada seorang editor koran mingguan.

Bila kamu ingin tau arti 1 hari, tanyalah seorang wanita yang menunggu hari pernikahannnya di esok hari.

Bila kamu ingin tau arti 1 jam, tanyalah pada seorang pengusaha yang terlambat menemui investor potensialnya.

Berikhtiar

Setiap orang memiliki cita-cita atas hidupnya. Ada yang menurut orang lain cita-citanya sangat tinggi, sehingga barangkali akan sangat sakit kalau terjatuh. Ada yang mimpinya unik, entah itu masuk akal atau tidak dan orang-orang cuma bisa tersenyum heran.

Tidak ada yang salah dengan cita-cita, justru kasian sekali orang yang hidupnya tanpa cita-cita. Mimpi dan cita-cita membuat hidup terasa hidup. Karena kita memiliki semangat untuk mewujudkannya suatu saat nanti.

Berikhtiar adalah hal yang tidak terbatas oleh waktu. Mimpi sekecil dan semustahil apapun itu wajib untuk diperjuangkan. Karena kita manusia. Berikhtiarlah tanpa henti. Sampai Allah memutuskan semuanya. Apakah kita harus tetap berjalan lurus pada apa yang sudah kita ihktiarkan, atau kah kita harus berhenti sampai tempat kita singgah sekarang. Allah akan memberi tanda, agar kita tidak berlama-lama menghabiskan waktu dalam kebimbangan dan ketidakpastian.

Allah hanya ingin menguji, seberapa besar keinginan kita terhadap mimpi kita. Jadi bejuanglah, selama kita bisa, selama kita masih bisa. Lalu berhenti jika Allah memintamu berhenti.
Itulah yang terbaik menurut-Nya, dan pasti terbaik untuk kita.

Hati Itu Milik Allah

Bismillah..

Allah, Sang Maha Pembuat skenario terbaik yang pernah ada.

Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.

Siapa sih yang lebih tau segalanya selain Allah? 
Nikmat mana lagi yang mampu saya dustakan? 
Cinta mana lagi yang mampu menandingi cinta Allah terhadap hamba-hambaNya?

Ya Allah, Ya Rabb..
Terkadang saya tidak paham dengan apa yang Engkau rencanakan untuk hambaMu ini. Saya juga tidak pernah tau akan berakhir dimana dan bagaimana segala isi dalam dada saya ini. Tapi yang saya yakini, rencanaMu pasti selalu menjadi yang terbaik.

Ketika saya meminta setangkai bunga mawar yang cantik, Engkau beri kaktus yang berduri.
Ketika saya meminta ditemani hewan kecil yang cantik, Engkau beri ulat yang berbulu.
Ketika saya meminta sinaran mentari yang menghangatkan, Engkau berikan hujan badai beserta kilat yang bersautan.

Jujur, awalnya saya merasa kecewa dan sedih. Namun saya terus mencoba untuk bersabar dan bertawakal, walaupun saya tau saya tidak sekuat orang-orang terdahulu. Hingga akhirnya, kaktus itu berbunga indah, bahkan lebih indah dibandingkan dengan mawar yang pernah saya pinta. Seiring waktu ulat berbulu pun menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik. Hujan badai yang Engkau hadirkan ternyata berujung pada pelangi yang ingin Engkau hadiahkan kepada saya. Sungguh Engkau satu-satunya yang paham isi di hati ini.

Book Review: Sirah Nabawiyah (by Syeikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri)

Karya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri ini adalah buku sirah yang paling dikenal di kalangan para pembaca. Pasalnya, metode yang digunakan cukup representatif dan dapat memberikan gambaran utuh mengenai hidup dan perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Buku ini juga mendapat penghargaan sebagai Juara I Lomba Penulisan Sejarah Islam Rabithah Al Alam Al Islami, Saudi Arabia. Inilah sebabnya yang menjadikan buku ini sebagai rujukan yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran sejarah peradaban umat.

            Sejarah memang unik. Ia dapat berperan sebagai sarana edukatif dan juga dapat menjadi hiburan di tengah keterpurukan umat dewasa ini. Sesungguhnya sejarah Islam sungguh agung. Bukan hanya karena sosok Rasulullah dan para sahabat yang dikenal sebagai generasi umat terbaik (khairu ummah), tetapi juga faktor ideologi Al Islam yang sangat kuat terinternalisasi dalam diri-diri mereka. Betapa tidak imperium super power kala itu (Romawi dan Persia) takluk di tangan mereka. Ini bukan tentang masalah pengenangan romantisme sejarah, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil spirit perjuangan dakwah dan tarbiyah sang Nabi.

Buih Di Atas Lautan

Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang suatu masa, dalam waktu dekat, ketika bangsa-bangsa (musuh-musuh Islam) bersatu-padu mengalahkan (memperebutkan) kalian. Mereka seperti gerombolan orang rakus yang berkerumun untuk berebut hidangan makanan yang ada di sekitar mereka”.

Salah seorang sahabat bertanya: “Apakah karena kami (kaum Muslimin) ketika itu sedikit?”

Rasulullah SAW menjawab: “Tidak! Bahkan kalian waktu itu sangat banyak jumlahnya. Tetapi kalian bagaikan buih di atas lautan (yang terombang-ambing). (Ketika itu) Allah telah mencabut rasa takut kepadamu dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah telah menancapkan di dalam hati kalian ‘wahn’.”

Seorang sahabat Rasulullah SAW bertanya: “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ‘wahn’ itu?”
 
Copyright © 2013-2014. Designed by Ismi Islamia Fathurrahmi